13 November 2014 "Rumahku Kini..."

Jumat, 14 November 2014 0 komentar


By Ananda Rizqy Amalia

Hari ini akan kuceritakan kisah yang aku alami.


Siang hari ini, terlihat begitu banyak kendaraan yang mengitari gedung Phinisi. Membawa bendera, siap untuk mengeluarkan orasi mereka. Saya dan teman-teman yang melihat kejadian tersebut pun sibuk berdiskusi kelebihan maupun kekurangan aksi tersebut. 

Selepas dhuhur, kami tetap melaksanakan kegiatan dan perkuliahan sebagaimana mestinya walaupun di luar sana aksi tetap berjalan. Berkisar antara jam 16.00 - 16.30 WITA perkuliahan pun berakhir. Saya dan teman-teman pun berkumpul untuk membahas acara yang akan kami adakan. Di saat kami menunggu teman-teman yang belum datang, tiba-tiba keadaan pun menjadi rusuh di luar sana. Entah apa yang menyebabkan saya tak tahu. Kakak-kakak datang memperingatkan "BUKA ALMAMATER KALIAN!!!", saat itu kami memang menggunakan almamater kami sebagai identitas diri kami. Mendengar instruksi kakak kami segera membuka almamater. Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan! BOOM! BOOM! BOOM! Kampus kami dihujani lemparan gas air mata. Kakak-kakak segera masuk dan menutup pintu menghalau gas! Kami yang berada di ruangan segera menutup indera penciuman kami. Tiba-tiba saja keadaan menjadi tak terkendali.

Kakak-kakak berlari memasuki ruangan seolah-olah ada yang memburu.
"MASUK!! MASUKK!!! SEMUANYA BERLINDUNG!!!"
Segera saja, kakak yang ada bersama kami menyuruh kami agar merunduk dan menuju ke sudut ruangan, kemudian menghalangi pintu. Saya segera menyadari polisi telah menerobos masuk ke dalam kampus kami. Perasaan kaget, takut, was-was pun bercampur baur. Di luar sana, terdengar teriakan, suara bantingan, plus suara ledakan. Mata dan pernapasan kami memerih akibat udara yang terkontaminasi dengan gas air mata. Kami tetap meringkuk di sudut ruangan dan berdoa dalam hati semoga mereka tidak ke ruangan kami. Beberapa saat suasana begitu tegang. Tak ada yang berani bersuara.
Tiba-tiba kakak mengatakan suasana sudah aman dan kami pun bergegas ke luar ruangan. Saya mengira kejadian ini sudah selesai, nyatanya belum! Kami pun disuruh untuk bergegas naik ke lantai atas untuk kembali bersembunyi di salah satu ruangan. Tak ada yang berani membantah. Semuanya pun kembali berlari menelusuri tangga. Di lantai atas, kami hanya dapat bersembunyi. Beberapa di antara kami menangis dan merasakan sesak napas. Yang lain pun berusaha menenangkan.
Kakak-kakak berusaha menghubungi dosen-dosen. Entah apa yang mereka bicarakan. Di bawah terdengar suara teriakan, makian entah siapa dan untuk siapa. Kami tetap berusaha untuk diam, walau mulut begitu gatal ingin berbicara...
Entah berapa lama kami bersembunyi, berusaha untuk meyakinkan diri semuanya akan baik-baik saja. Hingga akhirnya, ada kakak yang mengabarkan semuanya sudah aman dan kami  pun dapat untuk turun.
Di lantai bawah, pecahan kaca berserakan, pintu gedung kami rusak dan pecah, lemari terjatuh dan kami terperangah. Namun tak cukup sedetik kami pun ingin mengetahui apakah kondisi teman-teman kami yang lain baik-baik saja?!
Di luar gedung, tampak lalu lalang kakak-kakak yang seakan gusar atas apa yang terjadi.
"Siapa teman-teman kalian yang tidak ada? ..."
"Siapa yang punya nomor..."
"Cepat semuanya langsung pulang!"
Semua percakapan seakan tumpang tindih, namun perintah terakhir pun segera kami laksanakan. Sepanjang perjalan menuju parkiran motor2 yang ada di sekitar dijatuhkan. Dan saya pun berharap dan berdoa motor yang aku parkir di basement baik-baik saja.
Sesampainya di basement, saya melihat seorang teman, matanya sembab dan tampak kegeraman di wajahnya. Saya pun menghampirinya dan menanyakan keadaannya dan dimana lokasinya saat kejadian.
"Kami berada di ruang X. Saat itu kami sedang mengadakan kegiatan Psychocare dan menunggu yang lain untuk datang. Tiba-tiba saja keadaan menjadi kacau. Kakak menutup pintu ruangan dan menghalanginya dengan papan tulis. Kami meringkuk di ujung ruangan. Tiba-tiba saja, BRAKK! Kami mendengar kursi yang di banting, kaca-kaca pun pecah. Mendengarnya pun membuat kami makin ketakutan. Bahhkan membuat kakak di sampingku menangis. Pintu ruangan kami pun didobrak. Papan tulis dijatuhkan. Kakak-kakak yang menjaga kami pun dijatuhkan. "Semua laki-laki keluar!", perintah salah satu petugas. Salah seorang kakak kemudian dipukul dengan batang besi. Melihatnya membuatku geram dan entah keberanian apa yang membuatku berani melawan merekka. Aku menatap salah satu petugas itu dan bertanya, "MENGAPA KAMI YANG DISALAHKAN PADAHAL BUKAN KAMI YANG MELAKUKAN?" dan dia pun menjawab tak kalah seramnya! "KAMI MENYAMARATAKAN KALIAN SEMUA! DASAR...., .....,.....,,...." dan masih banyak sumpah serapah yang ia keluarkan. Jujur, melihat teman dan kakak yang dipukul dan dibawa di depanku itu sudah membuatku sedih karena tak dapat berbuat apa-apa...", ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca dan wajah yang geram.
Saya yang mendengarnya pun merasakan geram, sedih, dan kecewa... Apakah mereka harus memperlakukan kami seperti ini? Apakah kami tidak kalian anggap sebagai seorang manusia? Pantaskah kami dan kampus kami diperlakukan seakan teroris yang hendak menghancurkan negara?
Kalian datang dan merusak rumah kami! Kalian menyerang saudara kami! Kalian merusak kepercayaan kami, atas dasar penyamarataan! Dapakah kalian bertanggung jawab?
Sepanjang perjalanan berbagai perasaan berkecemuk di dalam hatiku. Mataku begitu perih dan penuh akan luka melihat di perjalanan itu kalian  para "Pembawa Keadilan" tertawa penuh kemenangan selayaknya memenangkan sebuah pertempuran! Apakah kita tengah berada di kancah pertempuran?!

Saya tak pernah menyukai yang dinamakan demo anarkis, merusak fasilitas masyarakat, menghalangi kepentingan masyarakat dan sebagainya. Namun, apakah karena segelintir orang yang menjadi provokator, kami yang tidak terlibat dapat diperlakukan semena-mena seperti itu? Kami diperlakukan selayaknya orang yang telah dijatuhi hukuman pidana, padahal kami hanyalah orang yang tak terlibat!

Ditambah lagi, betapa pilunya hati ini ketika media massa hanya akan memberitakan betapa "rusaknya moral" kampus kami dan mengindahkan segala hal yang menyakiti kami.

Tolong sekali lagi apakah segala hal perlu digeneralisasikan?

dan kini... rumahku telah hancur.

Tulisan ini ada sebagai salah satu pelampiasan hati akan kejadian hari ini...
#UngkapanHati. (ma)



0 komentar:

Posting Komentar

 

©Copyright 2011 PsyQuartivo | TNB